Friday, December 7, 2012

PENENTUAN BIAYA PRODUK BERSAMA & PRODUK SAMPINGAN


A. KOMPETENSI
  1. Memahami definisi produk bersama dan produk sampingan
  2. Memahami definisi biaya produksi bersama
  3. Memahami akuntansi produk sampingan
  4. Mampu menghitung alokasi biaya produksi bersama ke produk bersama

B. KONSEP
1.      Produk Bersama dan Produk Sampingan
            Produk bersama dikelompokkan menjadi produk utama (main products) dan produk sampingan (by product). Bahan baku yang sama diolah melalui proses produksi bersama (joint process) untuk menghasilkan beberapa jenis produk (joint product). Contoh: pemrosesan minyak mentah menghasilkan bensin, minyak pelumas, minyak solar, minyak tanah dan aspal.
            Produk utama adalah produk yang mempunyai nilai jual lebih tinggi dari produk sampingan. Produk sampingan adalah produk yang mempunyai nilai jual lebih rendah dari produk utama. Contoh: penggilingan padi menghasilkan beras sebagai produk utama, dan dedak atau katul sebagai produk sampingan.
  Karakteristik produk bersama:
(1)   Pemrosesan produk bersama menghasilkan produk bersama lainnya pada waktu yang bersamaan. Proses produksi untuk satu jenis produk secara otomatis diikuti dengan dihasilkannya satu atau lebih jenis produk yang lain.
(2)   Pemrosesan produk bersama selalu terjadi titik pisah, yaitu pada saat setiap produk secara individual dapat diidentifikasi dengan jelas, yaitu dapat diketahuinya produk utama dan produk sampingan.. Pada titik pisah, setiap produk dapat dijual langsung atau diproses lebih lanjut.
(3)   Pemrosesan produk bersama menghasilkan produk tertentu dengan nilai jual yang lebih tinggi dari produk lainnya. Nilai jual produk merupakan kriteria untuk membedakan produk utama dengan produk sampingan. Perlakuan suatu jenis sebagai produk sampingan tidak berlaku secara permanen.
Karakteristik produk sampingan:
(1). Merupakan hasil sampingan dari proses produksi produk utama, atau hasil dari proses
       penyiapan bahan baku sebelum bahan baku tersebut diproses menjadi produk utama
 (2) Produk sampingan diklasifikasi dapat dijual setelah titik pisah tanpa pemrosesan lebih
       lanjut, atau diproses lebih lanjut agar dapat dijual dengan harga lebih tinggi.

Soal-soal:
a). Perhatikan perusahaan manufaktur atau industri kecil di sekitar tempat tinggal saudara,   identifikasi produk bersama dan produk sampingannya!
b). Berdasarkan pertimbangan apa produk sampingan perlu diproses lanjut atau tidak?

2.      Biaya Produksi Bersama / Biaya Bersama
            Biaya bersama adalah biaya yang digunakan untuk proses produksi bersama. Biaya bersama meliputi semua biaya yang terjadi (biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, BOP) pada proses produksi bersama sampai terjadinya titik pisah, atau biaya bersama terjadi sebelum biaya dapat diidentifikasi dengan jelas pada setiap produk.
            Tujuan alokasi biaya bersama adalah untuk perhitungan biaya produk, yang digunakan untuk penilaian sediaan dan penentuan laba.     
            Karakteristik biaya bersama adalah tidak dapat ditelusur secara langsung dan jelas pada setiap jenis produk yang dihasilkan, sehingga perlu dilakukan alokasi biaya bersama pada setiap produk tersebut. Contoh: pemrosesan minyak mentah untuk menghasilkan bensin, minyak pelumas, minyak solar, minyak tanah dan aspal mengeluarkan biaya bersama yang meliputi biaya eksplorasi, penambangan dan pengolahan.

3.      Akuntansi Produk Sampingan
            Perlakuan akuntansi produk sampingan ada dua cara, yaitu tidak mendapat  alokasi biaya bersama dan mendapat alokasi biaya bersama.
a. Produk sampingan tidak mendapat alokasi biaya bersama (biaya bersama dibebankan semuanya ke produk utama), terdiri atas dua 2 metode, yaitu:
1).  Metode Pendapatan Kotor
Pendapatan kotor dari penjualan produk sampingan disajikan dalam Laporan Rugi-Laba sebagai pendapatan lain-lain (menambah laba operasi), menambah penjualan produk utama, mengurangi harga pokok penjualan produk utama, mengurangi biaya produksi total produk utama,
a). Pendapatan lain-lain
Contoh:
Penjualan (produk utama 10.000 unit @ Rp100)                               Rp1.000.000
Harga Pokok Penjualan:
         Sediaan awal (1.000 unit @ Rp85)             Rp     85.000
         Biaya produksi total (11.000 unit @ Rp85)            Rp   935.000
         Biaya barang tersedia untuk dijual              Rp1.020.000
         Sediaan akhir (2.000 unit @ Rp85)                        Rp   170.000
                                                                                                                 Rp   850.000
Laba kotor                                                                                           Rp   150.000
Biaya pemasaran dan administrasi                                                      Rp     50.000
Laba operasi                                                                                        Rp   100.000
Pendapatan lain-lain:
         Penjualan produk sampingan                                                         Rp    40.000
Laba sebelum pajak                                                                             Rp  140.000


Jurnal pendapatan penjualan produk sampingan:
Kas / Piutang Dagang                               Rp40.000
         Penjualan produk sampingan                                  Rp40.000

b). Menambah penjualan produk utama
Contoh:
Penjualan (produk utama 10.000 unit @ Rp100)                         Rp1.000.000
         Pendapatan penjualan produk sampingan                                    40.000
                                                                                                                  Rp1.040.000
Harga Pokok Penjualan:
         Sediaan awal (1.000 unit @ Rp85)             Rp     85.000
         Biaya produksi total (11.000 unit @ Rp85)            Rp   935.000
         Biaya barang tersedia untuk dijual              Rp1.020.000
         Sediaan akhir (2.000 unit @ Rp85)                        Rp   170.000
                                                                                                                 Rp  850.000
Laba kotor                                                                                                Rp  190.000
Biaya pemasaran dan administrasi                                                           Rp    50.000
Laba operasi                                                                                             Rp  140.000

Jurnal pendapatan penjualan produk sampingan:
Kas / Piutang Dagang                               Rp40.000
         Penjualan produk sampingan                                  Rp40.000

c). Mengurangi harga pokok penjualan produk utama
Contoh:
Penjualan (produk utama 10.000 unit @ Rp100)                         Rp1.000.000
Harga Pokok Penjualan:
         Sediaan awal (1.000 unit @ Rp85)             Rp     85.000
         Biaya produksi total (11.000 unit @ Rp85)            Rp   935.000
         Biaya barang tersedia untuk dijual              Rp1.020.000
         Sediaan akhir (2.000 unit @ Rp85)                        Rp   170.000
                                                                                         Rp  850.000
         Pendapatan penjualan produk sampingan  (Rp   40.000)
                                                                                                                 Rp  810.000
Laba kotor                                                                                                Rp  190.000
Biaya pemasaran dan administrasi                                                           Rp    50.000
Laba operasi                                                                                             Rp  140.000

Jurnal pendapatan penjualan produk sampingan:
Kas / Piutang Dagang                               Rp40.000
         Penjualan produk sampingan                                  Rp40.000

d).   Mengurangi biaya produksi total produk utama
Metode ini mengakibatkan biaya per unit produk utama berubah, sehingga nilai sediaan akhir juga berubah. 
Contoh:
Sediaan awal per unit berubah menjadi Rp80, disebabkan biaya produksi produk utama dikurangi pendapatan penjualan produk sampingan pada periode sebelumnya.

Penjualan (produk utama 10.000 unit @ Rp100)                                     Rp1.000.000
Harga Pokok Penjualan:
    Sediaan awal (1.000 unit @ Rp80)                                  Rp  80.000
     Biaya produksi total (11.000 unit @ Rp85)   Rp935.000
     Pendapatan penjualan produk sampingan    Rp  40.000
     Biaya produksi neto                                                         Rp895.000
     Biaya barang tersedia untuk dijual                                 
     (12.000 unit @ Rp       81,25)                                                      Rp975.000
     Sediaan akhir (2.000 unit @ Rp81,25)                                        Rp162.500
                                                                                                                             Rp  812.500
Laba kotor                                                                                                            Rp  187.500
Biaya pemasaran dan administrasi                                                                       Rp    50.000
Laba operasi                                                                                                         Rp  137.500

Jurnal pendapatan penjualan produk sampingan:
Kas / Piutang Dagang                               Rp40.000
         Biaya Produksi Produk Utama                               Rp40.000

2).  Metode Pendapatan Bersih
Pada metode ini, pendapatan dari penjualan produk sampingan dikurangi dengan seluruh biaya yang terjadi setelah titik pisah. Biaya setelah titik pisah meliputi biaya administrasi, biaya pemasaran dan biaya pemrosesan lebih lanjut produk sampingan. Pendapatan bersih produk sampingan disajikan dalam laporan Rugi-Laba sebagai:
a). Pendapatan lain-lain
b). Menambah pendapatan penjualan produk utama
c). Mengurangi harga pokok penjualan produk utama
d).   Mengurangi biaya total produksi produk utama

b. Produk sampingan mendapat alokasi biaya bersama
Biaya produk sampingan meliputi biaya bersama yang dialokasikan ke produk sampingan ditambah dengan biaya setelah titik pisah (biaya pemrosesan produk sampingan lebih lanjut). Metode untuk menentukan jumlah biaya bersama yang dialokasikan ke produk sampingan ada dua, yaitu:
1). Metode Biaya Pengganti
Metode ini diterapkan pada perusahaan yang produk sampingannya digunakan sebagai bahan dalam proses produksinya, sehingga tidak membeli dari pemasok. Biaya bersama dialokasikan ke produk sampingan sebesar harga beli atau biaya pengganti produk tersebut di pasar.

2). Metode Biaya Reversal / Harga Pasar
Pada metode ini biaya bersama dialokasikan ke produk sampingan sebesar taksiran biaya produk sampingan pada saat titik pisah. Taksiran biaya produk sampingan dihitung dengan cara nilai / harga pasar produk sampingan dikurangi taksiran laba kotor, taksiran biaya pemasaran, taksiran biaya administrasi dan umum, dan taksiran biaya proses lanjut produk sampingan. Rumusnya sebagai berikut:

                    Nilai pasar produk sampingan                                                 xx
                    Dikurangi:
                                Taksiran laba kotor                                          xx
                                Taksiran biaya pemasaran                               xx
                                Taksiran biaya administrasi & umum  xx
                                Taksiran biaya proses lanjut                            xx
                                                                                                                    xx
                    Taksiran biaya produk sampingan                                           xx
                  






















Contoh:
Elemen                                                  Produk utama              Produk sampingan
Biaya bahan baku                                              Rp3.000.000              
Biaya tenaga kerja langsung                                 4.000.000
BOP                                                                      2.000.000
Total biaya produksi (40.000 unit)                    Rp9.000.000  
Nilai pasar (5.000 unit @ Rp100)                                                                     Rp500.000
Taksiran laba kotor terdiri atas:
       Laba kotor (20% dari harga jual)                                        Rp100.000
       Biaya pemasaran & adm (5% dari harga jual)                         25.000       
                                                                                                                           Rp125.000
                                                                                                                           Rp375.000
Taksiran biaya produksi setelah pemisahan:                                        
       Biaya bahan baku                                                               Rp70.000                   
       Biaya tenaga kerja langsung                                                    80.000
       BOP                                                                                         20.000
                                                                                                                           Rp170.000
Taksiran nilai produk sampingan saat titik pisah
       dikurangkan ke produk utama                    Rp205.000                           *Rp205.000
Biaya produk utama                                      **Rp8.795.000
Ditambah dengan biaya produksi sesungguhnya
       setelah pemisahan                                                                           Rp  80.000
Biaya produk sampingan                                                                                  Rp285.000
Total jumlah unit                                               40.000                                       5.000
Biaya produk per unit                                       Rp220                                     Rp57

Catatan:
Tanda * adalah taksiran nilai produk sampingan pada saat titik pisah
Tanda ** adalah biaya produk utama setelah dikurangi biaya produk sampingan

Soal-soal:
1).    PT Z menghasilkan produk utama dan produk sampingan. Biaya produksi bersama sebesar Rp200.000. Setelah titik pisah, dikeluarkan biaya sebesar Rp150.000 untuk menyelesaikan produk utama, dan Rp5.000 untuk menyelesaikan produk sampingan. Produk utama memiliki harga pasar sebesar Rp400.000, sedangkan produk sampingan harga pasarnya sebesar Rp20.000. Tidak ada sediaan akhir.
       Diminta:
a). Metode pendapatan bersih digunakan untuk mencatat produk sampingan sebagai pendapatan lain-lain dan beban pemasaran serta administrasi produk tersebut sama dengan nol. Berapa jumlah pendapatan lain-lainnya? Sajikan dalam laporan Laba-Rugi?
b). Manajemen mengalokasikan beban pemasaran dan administrasi sebesar Rp2.000 ke produk sampingan dan memperoleh laba kotor sebesar 10% dari harga jual. Dengan menggunakan metode harga pasar, hitunglah jumlah biaya bersama yang dialokasikan ke produk sampingan.

2).    PT Y memproduksi satu produk utama dan dua produk sampingan, A dan B. Untuk bulan April, tersedia data sebagai berikut:
                                                       Produk Utama    Produk Sampingan
                                                                                   A               B                Total
Penjualan                                        Rp75.000            Rp6.000    Rp3.500      Rp84.500
Biaya produksi setelah titik pisah  Rp11.500            Rp1.100    Rp   900     Rp13.500
Beban pemasaran dan administrasi            Rp  6.000            Rp   750    Rp   550     Rp  7.300
Biaya produksi sebelum titik pisah                                                                             Rp37.500
Laba yang diperoleh untuk produk A dan B masing-masing sebesar 15% dan 12%.
Hitung biaya produksi sebelum titik pisah untuk produk sampingan A dan B menggunakan metode harga pasar, dan buat laporan LabaRugi yang merinci penjualan dan biaya untuk setiap produk.

4.      Alokasi Biaya Produksi Bersama  pada Produk Bersama
Biaya produksi bersama dialokasikan ke setiap produk bersama menggunakan metode nilai pasar, rata-rata biaya per satuan, rata-rata tertimbang dan unit kuantitatif.
a. Metode Nilai Pasar / Nilai Jual Relatif
Metode ini mengasumsikan bahwa setiap produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama memiliki nilai jual atau nilai pasar yang berbeda. Perbedaan nilai pasar disebabkan tingkat pemakaian biaya yang berbeda, produk yang mengkonsumsi biaya yang tinggi memiliki nilai jual tinggi juga dan sebaliknya.
Contoh:
Biaya produksi bersama untuk pemrosesan minyak mentah sebesar Rp1.500.000. Proses produksi bersama menghasilkan secara bersamaan bensin sebesar 50.000 liter, minyak pelumas sebanyak 30.000 liter dan minyak tanah sebesar 20.000 liter. Harga jual setiap produk per liter setelah titik pisah adalah bensin Rp5.500, minyak pelumas Rp3.000 dan minyak tanah Rp1.750. Hitung alokasi biaya bersamanya!












Produk Bersama
Jumlah Produk
(liter)
(1)
Harga Jual / Unit
 (2)
Nilai Jual (3)=(1)x(2)
Nilai Jual Relatif 
(%)
(4)
Alokasi Biaya Bersama (5)=(4)x1.500.000
Biaya / Unit
(6)=(5)/(1)
Bensin
50.000
Rp5.500
Rp275.000.000
68,75
Rp1.031.250.
Rp21
Pelumas
30.000
    3.000
      90.000.000
22,5
       337.500
Rp12
Minyak tanah
20.000
    1.750
      35.000.000
8,75
       131.250
Rp7
Total
100.000

Rp400.000.000
100
Rp1.500.000


b. Metode rata-rata biaya per satuan
Metode ini digunakan jika dari satu proses produksi bersama dihasilkan beberapa produk dengan kualitas yang berbeda, dan produk bersama yang dihasilkan diukur dalam satuan yang sama. Penentuan biaya untuk setiap produk dihitung sesuai dengan proporsi kuantitas masing-masing produk yang dihasilkan.
Contoh:
Berdasarkan contoh soal diatas, total produksi sebesar 100.000 liter, dengan biaya produksi rata-rata per liter adalah Rp15 (Rp1.500.000/100.000). Alokasi biaya bersama sebagai berikut:

Produk
Kuantitas
Rata-rata biaya per satuan
Alokasi Biaya Bersama
Bensin
50.000
Rp15
Rp750.000
Pelumas
30.000
Rp15
     450.000
Minyak tanah
20.000
Rp15
     300.000
Total
100.000

Rp1.500.000


c. Metode rata-rata tertimbang
Asumsi yang mendasari adalah setiap produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama memiliki faktor penimbang yang berbeda, seperti tingkat kesulitan pembuatan produk, waktu yang dikonsumsi, keahlian tenaga kerja, kualitas produk yang dihasilkan, dll. Penentuan alokasi biaya bersama pada setiap produk didasarkan atas perkalian jumlah unit produk dengan angka penimbang, dan hasilnya digunakan sebagai dasar untuk alokasi.
Contoh:
Berdasarkan contoh soal diatas, angka penimbang untuk setiap produk adalah bensin 3, minyak pelumas 2, dan minyak tanah 1. Alokasi biaya bersamanya sebagai berikut:

Produk
Jumlah produk
(1)
Angka penimbang
(2)
Jumlah produk x angka penimbang
(3)=(1)x(2)
Alokasi biaya bersama
(4)=(3)/230.000x Rp1.500.000
Bensin
50.000
3
150.000
Rp978.261
Pelumas
30.000
2
  60.000
    391.304
Minyak tanah
20.000
1
  20.000
    130.435
Total
100.000

230.000
Rp1.500.000

d. Metode unit kuantitatif
Asumsi yang mendasari adalah setiap produk yang dihasilkan dalam proses produksi bersama menggunakan bahan baku sesuai dengan tingkat pemanfaatan bahan baku yang terdapat pada setiap produk yang dihasilkan. Setiap produk dapat diidentifikasi sesuai dengan tingkat pemanfaatan bahan baku dalam ukuran satuan yang sama.
Contoh:

Produk
Kuantitas (1)
Persentase (%)
(2)=(1)/100.000
Alokasi Biaya Bersama
(3)=(2)xRp1.500.000
Bensin
50.000
50
Rp750.000
Pelumas
30.000
30
     450.000
Minyak tanah
20.000
20
     300.000
Total
100.000
100
Rp1.500.000

           
Soal-soal:
1).    PT X memproduksi produk W, X, Y dan Z dari proses produksi bersama. Tambahan informasi sebagai berikut:








                                           Harga Pasar
                                           pada                            Jika Diproses Lebih Lanjut
                   Unit                 Titik                             Tambahan       
Produk                    Produksi          Pisah                            Biaya               Harga Pasar
W                6.000               Rp80.000                    Rp7.500          Rp90.000
X                5.000                    60.000                        6.000                70.000
Y                4.000                    40.000                        4.000                50.000
Z                 3.000                    20.000                        2.500                30.000
Total               18.000                     Rp200.000                  Rp20.000        Rp240.000

Dengan menggunakan metode harga pasar, alokasikan total biaya produksi bersama sebesar Rp160.000 ke setiap produk

2).    PT X mengalokasikan biaya bersama sebesar Rp250.000 ke produk A, B dan C yang terjadi pada bulan mei 2006

Jumlah       Harga Jual       Sediaan          
Penjualan               Per liter            BDP akhir      
Produk A                  Rp420.000           Rp2.000          15 liter
Produk B                      400.000                1.500           20 liter
Produk C                      300.000                1.100           10 liter

Selama bulan Mei 2006 tidak terdapat barang dalam proses awal, tidak ada proses lanjut, dan PT X menggunakan sistem harga pokok proses. Berdasarkan data diatas, hitung alokasi biaya bersama dengan menggunakan metode nilai jual dan unit kuantitatif!




Referensi:
Usry, Carter, Akuntansi Biaya, Edisi 13, Buku 1, Penerbit Salemba Empat, Jakarta, 2004
Rayburn, L Gayle, Akuntansi Biaya, dengan Menggunakan Pendekatan Manajemen Biaya, Edisi             Keenam, Penerbit Erlangga, Jakarta, 1999
Suadi, Arief dkk, Akuntansi Biaya, Penerbit STIE YKPN, Jogjakarta, 2000
Halim, Abdul, Dasar-Dasar Akuntansi Biaya, Edisi 4, Penerbit BPFE, Jogjakarta, 1999

1 comment:

  1. ini soalnya gk ada kunci jawaban atau cara penyelesaiannya? makasii

    ReplyDelete